Selasa, 02 Februari 2016

Ahok ke Blora



Ahok Gubernur DKI Jakarta Ke Blora
Akui Kelezatan Sate Ayam Blora
BLORA. Kelezatan kuliner Sate Ayam khas Blora ternyata mampu membuat Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama tidak berhenti untuk mencicipinya hingga habis lebih dari sepuluh tusuk. Orang nomor satu di DKI Jakarta tersebut kepencut kelezatan Sate Ayam khas Blora saat sarapan pagi di rumah Singgih Hartono Jl.MR Iskandar, Minggu (31/1) kemarin.
“Sebelumnya saya mengenal Blora itu hanya sebagai penghasil kayu jati berkualitas bagus. Namun setelah saya datang kesini, ternyata Blora juga memiliki kuliner yang enak berupa sate ayam. Ini tadi saya habis 14 tusuk saat sarapan,” kata Ahok, sapaan akrab Gubernur DKI Jakarta sambil tersenyum, Minggu (31/1) lalu.

Menurutnya, Sate Blora ini memiliki cita rasa tersendiri. Berbeda dengan sate ayam pada umumnya yang ada di Jakarta, ia menganggap Sate Blora memiliki rasa khas yang berasal dari ayam kampung dengan perpaduan sambal kacang yang lembut. “Apalagi ini juga ada kuahnya sehingga terasa lebih segar. Baru kali ini saya jumpai sate pakai kuah,” lanjut Ahok.
Disela kunjungannya di Blora untuk menghadiri acara pernikahan ajudannya kemarin, memang sengaja salah satu pengusaha Blora mengundangnya untuk menyantap sarapan pagi sembari ramah tamah dengan pejabat di jajaran Pemkab Blora.
Hadir dalam kesempatan itu Penjabat (Pj) Bupati Blora Ihwan Sudrajat, Wakil Bupati Terpilih hasil Pilkada 2015 H.Arief Rohman, Dandim 0721 Blora, beberapa anggota DPRD, jajaran Forkopimda dan sejumlah tokoh masyarakat.
Seperti diberitakan sebelumnya, Ahok tiba di Blora pada Sabtu (30/1) lalu dalam rangka acara non dinas yakni menghadiri pernikahan ajudannya di Gedung Sasana Bhakti yang digelar Minggu siang (31/1) kemarin.
Sebelumnya dirinya juga menyempatkan untuk mampir meninjau Pabrik Gula GMM di Desa Tinapan Kecamatan Todanan yang kebetulan dipimpin oleh teman semasa kuliahnya dahulu, Kamadjaya. “Iya, Pak Kamadjaya dahulu teman saya kuliah sehingga saya sempatkan mampir untuk melihat pabrik gula miliknya,” pungkasnya. (Vina/Tio)
Caption: Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) didampingi Wakil Bupati Terpilih H.Arief Rohman, M.Si sesaat setelah sarapan dengan menu Sate Ayam Blora, Minggu (31/1)

Minggu, 31 Januari 2016

Pasar Tradisional & Problematikanya



Pasar Tradisional dan Problematikanya
Penulis Drs Ec Agung Budi Rustanto – Pimpinan Redaksi tabloid INFOKU – diolah dari 7 sumber berbeda)

Pasar tradisional selama ini kebanyakan terkesan kumuh, kotor, semrawut, bau dan seterusnya yang merupakan stigma buruk yang dimilikinya.
Namun demikian sampai saat ini di kebanyakan tempat masih memiliki pengunjung atau pembeli yang masih setia berbelanja di pasar tradisional. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa banyak juga pasar tradisional yang dalam perkembangannya menjadi sepi, ditinggalkan oleh pengunjung atau pembelinya yang beralih ke pasar moderen.
Stigma yang melekat pada pasar tradisional secara umum dilatarbelakangi oleh perilaku dari pedagang pasar, pengunjung atau pembeli dan pengelola pasar. Perilaku pedagang pasar dan pengunjung dan pengunjung atau pembeli yang negatif secara perlahan dan bertahap dapat diperbaiki, sekalipun memerlukan waktu lama. Keterlibatan pengelola pasar dalam perbaikan perilaku ini adalah suatu keniscayaan.
Melekatnya stigma buruk pada pasar tradisional, seringkali mengakibatkan sebagian dari para pengunjung mencari alternatif tempat belanja lain, di antaranya mengalihkan tempat berbelanja ke pedagang kaki lima dan pedagang keliling yang lebih relatif mudah dijangkau (tidak perlu masuk ke dalam pasar). Bahkan kebanyakan para pengunjung yang tergolong di segmen berpendapatan menengah bawah ke atas cenderung beralih ke pasar moderen, seperti pasar swalayan (supermarket dan minimarket) yang biasanya lebih mementingkan kebersihan dan kenyamanan sebagai dasar pertimbangan beralihnya tempat berbelanja.
Seringkali dikesankan bahwa perilaku pedagang yang menjadi penyebab utama terjadinya kondisi di kebanyakan pasar tradisional memiliki stigma buruk. Sebaliknya, di lapangan di lapangan dijumpai peran pengelola pasar terutama dari kalangan aparatur pemerintah dalam mengupayakan perbaikan perilaku pedagang pasar tradisional masih sangat terbatas. Banyak penyebab yang melatarbelakangi kondisi ini. Dimulai dari keterbatasn jumlah tenaga dan kemampuan (kompetensi) individu tenaga pengelola pengelola serta keterbatasan kelembagaan (organisasi) pengelola pasar untuk melakukan pengelolaan pasar dan pembinaan pedagang,
Selanjutnya permasalahan yang dihadapi oleh para pengelola pasar di lapangan tidak terlepas dari Kebijakan pimpinan daerah dan para pejabat di bawahnya (Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah-SKPD) di tingkat Kabupaten atau Kota.
Dari kebijakan yang dikeluarkan dapat diketahui kepedulian mereka terhadap pasar tradisional berserta para pedagang di dalamnya dan para Pedagang Kaki Lima (PKL). Seperti diketahui pembiaran PKL dapat menyebabkan gangguan terhadap pasar tradsional dan para pedagang di dalamnya, sehingga para PKL juga perlu ditata dan dibina seperti halnya dengan pasar tradisional dan para pedagangnya.
Penulis yang Asli BLORA mencoba untuk menelaah permasalahan pasar tradisional yang peninjuannya berdasarkan pejabat dan institusinya yang terkait, dimulai dari lapis (layer) di tingkat paling atas atau pihak-pihak yang memiliki kewenangan yang paling tinggi (pimpinan daerah), kemudian turun secara hirarkhi, berjenjang ke bawah yakni ke pihak-pihak (Kepala SKPD dengan jajarannya) yang memilki kewenangan dengan ruang lingkup yang lebih terbatas,
Pasar Tradisional dan PAD
Kepedulian Pimpinan Daerah dan Para Pejabat di bawahnya terhadap pasar tradisional menentukan kebijakan dan bentuk organisasi dari instansi (SKPD) yang membidangi pasar tradisional di daerahnya.
Di beberapa daerah, pimpinan daerah meletakkan posisi pasar semata-mata sebagai salah satu sumber utama Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi yang dipungut dari para pedagang.
Sehingga kebijakan yang dikeluarkan oleh Pimpinan Daerah (Bupati/Walikota) dan Pejabat Daerah di tingkat bawahnya (Kepala SKPD) lebih menekankan pada hal-hal yang berkaitan dengan optimalisasi pemungutan retribusi pasar, seperti Pengaturan Pemungutan dan Penyetoran Retribusi serta Administrasi Keuangan (pembukuan) Retribusi semata daripada penekanan pada pembinaan pasar termasuk di dalamnya pembinaan para pengelola pasar dan pedagang pasar.
Akibat dari adanya kebijakan optimalisasi pemungutan retribusi tersebut, maka kepada para Kepala Pasar diberikan target-target yang untuk mencapainya pasar diusahakan sedemikian rupa agar dapat menampung pedagang dalam jumlah sebanyak mungkin, termasuk mengisi sebagian tempat-tempat kosong seperti tangga dan lorong-lorong pasar yang seharusnya dibiarkan tetap kosong tanpa pedagang agar para pengunjung tetap nyaman berlalu lalang.
Dalam situasi di mana peran pasar lebih ditekankan sebagai salah satu penghasil PAD, maka di beberapa daerah mendudukan pasar tradisional di bawah Dinas Pendapatan Daerah (DINPENDA)
Pembinaan
Pemahaman tentang aktivitas pengelolaan pasar dan perdagangan eceran (ritel) mutlak harus dimiliki oleh aparatur dinas yang ditugasi membinan pasar tradisional termasuk di dalamnya pedagang pasar.
Dalam merancang kebijakan pemerintah kabupaten/kota yang diterbitkan dalam Peraturan Daerah (PERDA) serta peraturan dan pedoman pelaksanaan harus didasarkan atas pemahaman tentang pengelolaan (manajemen) pasar dan perdagangan eceran (ritel).
Selanjutnya dalam pelaksanaan peraturan dan pedoman pelaksanaan tersebut seyogyanya para aparatur pelaksana mulai di tingkat SKPD (dinas yang membidangi pasar) hingga di tingkat pengelola pasar seyogyanya juga memahami hal-hal yang mendasar tentang pengelolaan pasar dan perdagangan eceran.
Tentunya tingkat pemahaman yang seyogyanya harus dimiliki oleh masing-masing aparatur tersebut berbeda-beda tergantung pada posisi dan sifat tugas aparatur yang bersangkutan.
Agar para aparatur dapat melaksanakan peraturan dan pedoman tersebut dengan baik, maka sebelumnya kepada mereka diberikan pelatihan secara berjenjang tentang pengelolaan pasar dan perdagangan eceran. Selanjutnya kepada para aparatur yang telah dilatih, kepada mereka diberikan kesempatan untuk bekerja di bidang-bidang sesuai dengan pengetahuan yang telah diperolehnya sampai waktu yang dirasakan cukup untuk dapat menerapkan pengetahuan tersebut dan diharapkan pengelolaan pasar dan pedagang pasar dapat beraktivitas mengikuti peraturan dan pedoman dengan tertib dan konsisten serta berkesinambungan.
Perdagangan eceran (ritel) merupakan salah satu bagian dari disiplin ilmu pemasaran yang seringkali kurang dipahami oleh aparatur dari SKPD yang membidangi perdagangan dan pasar, termasuk di dalamnya pasar moderen dan pasar tradisional serta perdagangan eceran.
Revitalisasi Pasar Tradisional
Kebijakan Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam merevitalisasi pasar tradisional masih lebih menekankan pada perbaikan (renovasi) phisik bangunan pasar.
Masih sangat jarang yang disertai dengan pembangunan kelembagaan (institutional building) seperti mengembangkan organisasi (organizational development) pengelola dan pembina pasar tradisional, termasuk di dalamnya pengembangan sistem manajemen pasar beserta sumber daya manusia (SDM) yang terlibat serta pedagang pasar.
Berdasarkan pengalaman empiris di banyak kabupaten dan kota, setelah dilakukan renovasi atau pembangunan kembali bangunan pasar selama kurun waktu 3-5 tahun kemudian, bangunan pasar yang telah direnovasi atau dibangun kembali beserta pengelolaan pasarnya tampak kembali semrawut serta kondisi pasar kembali kumuh dan kotor sama keadaannya seperti sebelum dilakukan renovasi atau pembangunan kembali pasar.
Terlebih lagi, setelah direnovasi atau pembangunan kembali bangunan pasar, kegiatan perawatan atau pemeliharaan sangat minimal dilakukan dengan alasan keterbatasan anggaran daerah. Hal ini terjadi karena kebijakan revitalisasi pasar tradisional masih hanya sebatas menyentuh bangunan phisik pasar semata yang seringkali kurang diikuti dengan aktiviast perawatan atau pemeliharaan bangunan phisik pasar.
Mulai tahun 2012, Kementerian Perdagangan memberikan bimbingan teknis kepada para pedagang bersama para pengelola pasar tradisional tentang cara berjualan yang baik, seperti mengupayakan dan memelihara kebersihan pasar, cara berdagang yang baik dengan penataan barang dagangan yang menarik pembeli dan pengelolaan pasar. Kegiatan ini masih difokuskan pada pasar-pasar tradisional yang telah direvitalsasi pada tahun lalu, seperti Pasar Grabag di Kabupaten Purworejo, Pasar Cokrokembang di Kabupaten Klaten dan Pasar Minulyo di Kabupaten Pacitan.
Selain dibangun oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah, pembangunan bangunan pasar juga dilakukan oleh pihak swasta, di mana pihak swasta bertindak sebagai pihak pengembang yang berhak menjual kios-kios di lokasi tertentu, biasanya di bagian bangunan pasar yang menghadap ke luar, baik di lantai dasar maupun di lantaui atas apabila bangunan pasar tersebut merupakan pasar yang bertingkat.
Sedangkan pihak Pemerintah Daerah bertindak sebagai pengelola pasar yang bersangkutan ketika telah selesai direnovasi.
Berdasarkan pengalaman empiris di banyak daerah, keberhasilan pembinaan pasar dan pedagang pasar tradisonal sangat ditentukan oleh kepedulian para Kepala Daerah (Bupati dan Walikota) yang diikuti oleh para pejabat di tingkat teknis.
Pengalaman empiris menunjukkan bahwa kebijakan Kepala Daerah yang menetapkan pasar sebagai salah satu sumber PAD tanpa diikuti dengan pengembalian pendapatan ke pasar secara signifikan sebagai tambahan biaya operasional dan perawatan/pemeliharaan serta biaya pembinaan bagi pengelola dan pedagang pasar, maka hal ini menjadi penyebab utama kondisi pasar-pasar tradisional memiliki ber-stigma negatif seperti kumuh, semrawut, kotor, dan tidak nyaman dikunjungi oleh masyarakat konsumen.###

Baca Model tabloid ....?
Gambar  Klik KANAN pilih Open New Tab atau Buka Tautan Baru

 


Mobil DKK Blora terbakar



Mobil Milik Dinkes Blora Terbakar
BLORA. Sebuah mobil milik Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blora pada hari Sabtu (30/1) kemarin tiba-tiba terbakar hebat di Jl.Blora-Cepu km 20 tepi hutan Kalimodang Kecamatan Sambong. Kejadian yang terjadi pada pukul 14.45 WIB tersebut sempat membuat arus lalu-lintas macet dari kedua arah karena para pengendara takut terkena ledakan mobil yang terbakar.
Diketahui mobil milik Dinkes dengan nomor polisi K-9580-PN tersebut dikemudikan oleh Dariyanto (37) warga Blora yang saat itu sedang perjalanan dari Kecamatan Cepu menuju Blora. Namun naas, setibanya di hutan Kalimodang tiba-tiba mobil terbakar hebat. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, hanya saja badan mobil hangus tak berbentuk akibat cepatnya api membakarnya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora, Sri Rahayu melalui staf pemantau wilayah Cepu, Sambong, Kedungtuban dan sekitarnya, Agung Triyono mengaku bahwa setelah mendapatkan laporan, petugas pemadam kebakaran BPBD langsung menuju ke tempat kejadian.

“Setibanya di TKP, ternyata api sudah membesar. Berdasarkan keterangan dari warga sekitar sempat beberapa kali terdengar ledakan dari dalam badan mobil. Kemungkinan mesinnya meledak mas,” kata Agung Triyono.
Menurutnya setelah satu jam dilakukan penyemprotan oleh tim damkar, api berhasil dipadamkan. Namun kondisi badan mobil sudah hangus semua. Kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.
Sementara itu, Kapolsek Sambong AKP Joko Priyono menjelaskan bahwa penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan oleh timnya. “Penyebab kebakaran masih dalam pendalaman. Diduga ada konsleting pada kabel mesin mobil. Namun pastinya menunggu hasil pemeriksaan ,” ucapnya.
Ia menyarankan kepada seluruh warga masyarakat yang memiliki mobil agar selalu melakukan pengecekan kondisi mesin dan menservise secara rutin untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti kejadian tersebut. (Vina/tio-infoblora)

Bantuan SMAN 2 dari Alumni


Ikasmada Serahkan Bantuan Senilai Rp 100 Juta ke SMAN 2 Blora
BLORA. Meskipun sudah lulus dari SMA Negeri 2 Blora sejak 30 tahun lalu, ternyata para alumni yang tergabung di Ikasmada ini tidak melupakan mantan almamaternya di Jl.Blora-Rembang km 4. Hal itu ditunjukkan dengan beberapa kegiatan sosial dan pemberian bantuan untuk pengembangan SMA Negeri 2 Blora dan lingkungan sekitarnya.
Setelah bulan Oktober 2015 lalu menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 125 truk tangki untuk mengatasi kekeringan di lingkungan sekitar SMA Negeri 2 Blora dan Kabupaten Blora pada umumnya. Kali ini Ikasmada kembali menunjukkan kepedulian sosialnya terhadap pengembangan sarana prasarana sekolah.
Pada hari Sabtu (30/1) kemarin, bertempat di lapangan upacara sekolah setempat. Segenap pengurus Ikasmada angkatan pertama tahun 1986 melalui apel pagi di depan seluruh siswa-siswi dan jajaran guru memberikan bantuan dana sebesar Rp 100 juta. Dana tersebut sebagai dukungan pembangunan gerbang sekolah dan jalan akses masuk dari Jl.Blora-Rembang di sebelah timur.

“Ini bentuk kepedulian kami terhadap sekolah yang puluhan tahun lalu sudah memberikan banyak pengetahuan dan ilmu kepada kami semua. Semoga bantuan ini bisa digunakan untuk kemajuan SMA Negeri 2 Blora,” ujar April Srihono, Ketua Ikasmada, Sabtu (30/1) kemarin.
Bantuan secara simbolis diserahkan kepada Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Blora, Yuni Ni’wati disaksikan para anggota Ikasmada lainnya, para guru dan semua siswa siswi.
“Terimakasih atas kepedulian para alumni kepada sekolah ini. Bantuan ini akan kami gunakan untuk pembangunan sekolah. Diantaranya pembangunan gapura sekolah di sebelah timur, akses jalan masuk serta lainnya,” kata Kepala Sekolah Yuni Ni’wati.
Sementara itu Dwi Djatmiko pengurus Ikasmada angkatan 1986 lainnya yang kini telah menjadi pengusaha sukses di Provinsi Banten dipercaya untuk menandatangi prasasti pembangunan gapura di atas batu marmer.
Setelah menandatangani prasasti, ia berpesan kepada seluruh siswa agar tetap semangat belajar. “Keadaan ekonomi jangan sampai menghambat semangat belajar. Sebisa mungkin lanjutkan jenjang pendidikan di bangku kuliah,” ucap Dwi Djatmiko.
Ia mengatakan bahwa setelah lulus dari SMA Negeri 2 Blora pada tahun 1986 lalu, dirinya tidak langsung mengenyam bangku kuliah. Namun karena kemauan belajar yang sangat tinggi, ia nekad merantau ke Jakarta untuk bekerja sendiri untuk membiayai biaya kuliah.
“Alhamdulillah kini bisa dikatakan berhasil dan memperkerjakan banyak buruh di Banten. Adek-adek disini pun jangan patah semangat. Keadaan ekonomi yang sulit jangan dijadikan alasan utama untuk putus sekolah. Jika kemauan tinggi, semangat belajar, bekerja dan berdoa pasti akan sukses di masa depan,” pungkasnya.
Sesuai rencana setelah kegiatan pemberian bantuan ini, pada bulan Juli 2016 mendatang Ikasmada juga akan menyelenggarakan kegiatan reuni akbar semua angkatan di SMA Negeri 2 Blora yang saat ini masih terus dimatangkan susunan acaranya. (Endah/tio-infoblora)