Thursday, August 31, 2017

opini Mahkamah Konstitusi Apakah Sudah Merdeka



Sudahkan MK Merdeka dari Politik.... ?
Penulis Drs Ec Agung Budi Rustanto – Pimpinan Redaksi tabloid INFOKU – diolah dari 7 sumber berbeda)
Melihat 'kemarahan' Profesor Ikrar Nusa Bhakti dalam tulisan di Media Indonesia (9/7) terkait dengan dikabulkannya pembatalan pasal yang sejatinya ditujukan untuk mencegah terjadinya dinasti politik dalam pemilihan kepala daerah.
Beliau bahkan sampai mengusulkan komposisi hakim konstitusi tidak hanya yang berlatar belakang hukum tetapi seharusnya juga bisa mengakomodasi keahlian lain seperti ahli politik dan filsafat sosial
Tujuannya tentu saja agar putusan-putusan yang dihasilkan hakim konstitusi tidak hanya mempertimbangkan aspek hukum belaka, apalagi hukum dalam pemahaman yang sangat normatif.
Usul tersebut patut dipertimbangkan, sebab konstitusi juga tidak secara eksplisit membatasi latar belakang keilmuan tertentu yang bisa diusulkan menjadi hakim konstitusi.
Syarat tentang 'menguasai konstitusi dan ketatanegaraan' tentu saja tidak menjadi monopoli bidang hukum saja.
Di luar itu semua, putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang melegalkan 'dinasti politik' tidak berlebihan jika disebut sebagai kemunduran demokrasi.
Ikhtiar untuk mengurangi korupsi akibat dinasti politik telah dimentahkan dengan berlindung di balik hak politik petahana dan kroninya.
Korupsi dan konflik kepentingan
Problem korupsi sebetulnya berakar dari konflik kepentingan, di saat kepentingan umum (negara) dilucuti kepentingan pribadi atau kelompok.
Konflik kepentingan menjadi pemicu utama terjadinya penyalahgunaan kekuasaan oleh pejabat publik.
Rumusan undang-undang tindak pidana korupsi juga menempatkan konflik kepentingan sebagai salah satu unsur penyusun tidak pidana, misalnya pasal-pasal suap yang berhubungan dengan jabatan atau kewenangan penyelenggara negara.
Pengaturan di dalam Pasal 7 huruf (r) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota yang telah dibatalkan MK ialah dalam rangka membatasi terjadinya konflik kepentingan antara petahana dan calon kepala daerah.
Pembatasan semacam itu bukanlah hal yang baru terkait dengan akses dan penggunaan kewenangan kepala daerah dalam pemilihan kepala daerah.
Undang-undang pemerintahan daerah sebelumnya juga telah membatasi pejabat di daerah dalam menggunakan kewenangannya, misalnya larangan membuat keputusan/tindakan yang menguntungkan atau merugikan calon kepala daerah tertentu.
Selain itu, pembatasan penggunaan fasilitas negara diatur agar tidak digunakan calon tertentu, termasuk membatasi petahana yang kembali mencalonkan diri dalam jabatan yang sama.
Pembatasan semacam ini seharusnya semakin diperkuat baik dari segi larangan maupun pengenaan sanksi dan bukan justru sebaliknya.
Putusan MK tentu akan menjadi pertanda buruk bagi keberlanjutan pengaturan konflik kepentingan di Indonesia.
Itu tidak hanya dalam konteks pemilihan umum, tetapi juga dalam penyelenggaraan negara/pemerintahan secara umum.
Partai politik
Niat baik pembentuk undang-undang untuk membatasi politik dinasti patut diapresiasi publik.
Sekalipun pasal itu telah dibatalkan MK, praktik politik dinasti sebetulnya masih bisa diminimalkan melalui kebijakan di internal partai politik terkait dengan pencalonan kepala daerah.
Niat baik tersebut tidak boleh dicederai partai politik sendiri jika dalam praktiknya justru mengusung calon yang memiliki konflik kepentingan dengan petahana.
Partai politik harus membangun mekanisme di internalnya untuk membatasi terjadinya pergiliran kekuasaan di antara petahana dan keluarganya.
Sistem kaderisasi partai politik juga akan diuji dengan mekanisme ini, apakah seluruh kader memiliki kesempatan yang sama atau ada privilese terhadap kelompok tertentu untuk maju dalam pemilihan kepala daerah.
Momentum Peringaan Kemerdekaan RI ke 72 ini, sebaiknya digunakan partai politik untuk membuktikan kepada publik bahwa reformasi di internal partai sedang berjalan ke arah yang benar.
Jika tidak, inisiasi pembatasan politik dinasti di dalam undang-undang tersebut patut dicurigai sebagai bagian dari skenario untuk memindahkan beban politik ke MK. 
Kita tentu tidak berharap demikian, semoga niat baik untuk membatasi politik dinasti tetap dijaga partai politik semata-mata untuk mengurangi dampak negatif (korupsi) dari praktik tersebut.###


Baca Model Cetak tabloid ....?
Gambar  Klik KANAN pilih Open New Tab atau Buka Tautan Baru

 

Supir Truk Ditangkap



Supir Truk Pengangkut Kayu Jati Curian Ditangkap Setelah Dinyatakan Buron
INFOKU, BLORA- Sempat menjadi buronan polisi beberapa hari sejak Jumat (25/8/2017) lalu, akhirnya sopir truk pembawa kayu jati curian hasil illegal loging ditangkap, Selasa (29/8/2017). Penangkapan dilakukan oleh Unit Buser Sat Reskrim Polres Blora dengan tanpa perlawanan.
Kapolres Blora AKBP Saptono SIK pada hari Rabu (30/8/2017) memastikan bahwa buronan atas nama Yono alias Gonrong (40) warga Dukuh Korgan Desa/Kecamatan Purwosari, Kab.Bojonegoro telah ditangkap tanpa perlawanan sewaktu berada di rumahnya.

 Yono alias Gonrong, sopir truk (kanan) akhirnya ditangkap polisi setelah buron selama 5 hari.
“Buronan sopir truk bermuatan kayu illegal dengan No-Pol K-1987- AN, kabin warna kuning, bak warna ungu, yang berisikan 8 batang kayu jati glondongan tanpa dilengkapi surat izin syah telah berhasil ditangkap,” ujar Kapolres Blora AKBP Saptono, Rabu (30/08/17).
Kapolres Blora mengatakan hasil tim Buser Sat Reskrim Polres Blora berhasil menangkap pelaku setelah melakukan lidik dan pengembangan kasus dengan memeriksa saksi-saksi sebelumnya.
“Berkat kerja keras dan hasil pengembangan Sat Reskrim, akhirnya berbuah hasil dengan ditangkapnya pelaku, dan saat ini masih dalam pemeriksaan penyidik untuk mengungkap jaringannya,” terang Kapolres.
Kast Resktrim Polres Blora AKP Herry Dwi Utomo, S.H, M.H menambahkan sebelumnya tanggal 25 Agustus 2017 lalu, pelaku mengangkut kayu jati illegal dari Desa Temengeng, Kec.Sambong dibawa menuju Kec.Kedungtuban, akan tetapi ketahuan oleh petugas gabungan dari Polsek Kedungtuban dan Perhutani.
Merasa sedang di kejar petugas, pelaku langsung melaju kencang dan meninggalkan truknya di pinggir sawah kemudian pelaku melarikan diri.
“Kami masih mendalami keterangan pelaku untuk pengembangan lebih lanjut,” jelasnya.
Kapolres Blora AKBP Saptono dalam pemaparan lalu menekankan kepada jajarannya untuk terus bekerja maksimal dalam memberantas pembalakan liar dan tidak berhenti pada ‘kroco-kroco’ saja. (Gunawan/ IB)

OJO di KORUPSI


Blora Juara Carnival Jateng



Blora Juara Carnival Jateng 2017
INFOKU, BLORA.- Kontingen Dekranasda Kabupaten Blora tahun ini kembali menjuarai event Dekranasda Carnival Jateng 2017 yang berlangsung di Jepara, Sabtu (26/8/2017). Setelah tahun lalu meraih juara pertama, kini Blora harus rela menduduki juara kedua karena nilainya diungguli tipis oleh Kabupaten Wonosobo yang mengusung kostum produk kriya nan unik.
Berdasarkan rilis yang diterima redaksi Info Blora dari Humas Protokol Setda Kabupaten Blora, kontingen Dekranasda Blora kali ini mengusung tema Cerita Rakyat Barongan Blora dengan 5 kostum yang dibuat sedemikian rupa mencerminkan beberapa tokoh barongan sehingga berhasil meraih juara kedua dalam event yang diikuti Kabupaten/Kota se Jateng ini.
Diantaranya adalah kostum Barongan Gembong Amijoyo, Pangeran Panji Asmoro Bangun, Raden Klana Sewandono, Dewi Sekartaji dan Joko Lodra, diiringi tokoh Untup, Nayantaka serta para penari jaranan.
Kelima kostum tersebut berhasil ditampilkan sesuai karakter tokoh masing-masing di sepanjang rute dari depan Rumah Dinas Wakil Bupati Jepara menuju Alun-alun Jepara.
Ketua Dekranasda Blora Hj. Umi Kulsum Djoko Nugroho menerima penghargaan dari Gubernur Ganjar Pranowo atas diraihnya Juara 2 Dekranasda Carnival 2017 oleh Kab.Blora.

Setibanya di depan panggung kehormatan yang ada di Alun-alun Jepara, tim Dekranasda Kabupaten Blora langsung beraksi mempertunjukkan aksi teaterikal tentang cerita rakyat Barongan Blora. Gubernur Ganjar Pranowo dan Ibu Siti Atikoh selaku Ketua Dekranasda Jawa Tengah tampak senang dengan penampilan Blora.
“Selamat Blora atas kemenangannya, semoga semakin kreatif,” ucap Gubernur Ganjar Pranowo secara singkat sambil menyerahkan piala kepada Ketua Dekaranasda Kabupaten Blora didampingi istrinya.
Ketua Dekranasda Kabupaten Blora Hj.Umi Kulsum Djoko Nugroho yang hadir ke Jepara bersama wakilnya Hj.Ainus Solichah Arief Rohman dan rombongan, menyatakan senang sekaligus bangga karena Blora dalam dua tahun berturut turut bisa meraih juara di event yang sama dalam rangkaian Hari Jadi Provinsi Jateng ke 67.


“Alhamdulillah ini kemenangan kita bersama. Terimakasih kepada seluruh supporter yang sudah jauh-jauh datang ke Jepara untuk memberikan dukungannya,” kata Hj. Umi Kulsum.
Usai penyerahan piala, seluruh tim tampak bahagia foto bersama di depan panggung kehormatan. Mereka melayani para penonton yang ingin foto bersama dengan para pemeran kostum Seni Barongan Blora. (Endah/IB)

tewas Kesetrum Listrik



Warga Wonosemi tewas Tersengat Listrik Ketika Pangkas Pohon
INFOKU, BLORA- Berniat hendak menebang ranting pohon mangga di depan rumahnya, Suparmin (60), warga Dukuh Sambirejo RT.01/RW.02 , Desa Wonosemi, Kecamatan Banjarejo, tiba-tiba meninggal.
Korban diduga tersengat listrik yang berasal dari kabel di rantaing pohon mangga.
“Memang benar, kami dapat laporan ada seorang yang meninggal dunia di Desa Wonosemi tadi pagi secara mendadak saat coba menebang ranting pohon mangga dirumahnya. Tapi laporan itu baru kami terima pada siang tadi,” ucap Kapolsek Banjarejo Polres Blora AKP Budiyono, S.H, Sabtu (26/8/2017).
Kapolsek menjelaskan, polisi sudah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan memeriksa saksi, yakni Joko Sucipto dan Sujiyanto yang merupakan tetangga korban serta para kerabat korban.

“Jadi di depan rumah korban ada ranting pohon mangga yang menjulur panjang. Korban berinisiatif memotong ranting pohon tersebut supaya terlihat rapi dengan cara menebas dengan menggunakan parang. Tapi tanpa disadari disela-sela ranting mangga itu, terdapat kabel listrik PLN dan parangnya pun tanpa sengaja menebas kabel sehingg aliran listrik langsung menyambar korban.” jelasnya.
Korban ditemukan sudah jdalam keadaan terjatuh, tetanggnya yang melihat sontak langsung membawanya ke Puskesmas, akan tetapi nyawanya sudah tidak bisa ditolong lagi.
“Dari hasil olah TKP, korban meninggal lantaran tersengat aliran listrik di pohon mangga. Diketemukan korban dengan luka bakar pada leher depan dan kedua telapak kaki dekat jari jempol . Tidak diketemukan tanda- tanda kekerasan/ penganiayaan pd tubuh korban .” jelas AKP Budiyono.
Setelah usai diperiksa Polisi bersama tim medis dari Puskesmas Banjarejo, jasad korban langsung diserahkan kepada pihak keluarga untuk segera dimakamkan. (Endah/POL)