Opini : TPP dan Kinerja PNS/ASN



TPP, Mampukah Meningkatkan Kinerja PNS/ASN ...?
Penulis Drs Ec Agung Budi Rustanto – Pimpinan Redaksi tabloid INFOKU – diolah dari 12 sumber berbeda)
Adalah suatu kenyataan yang tidak dapat kita pungkiri bahwa opini masyarakat dewasa ini tentang Pegawai Negeri Sipil pada khususnya dan birokrasi pada umumnya, selalu bernada miring.
Isu tersebut antara lain terkait dengan produktivitas kerja PNS dan etos kerjanya yang dianggap rendah, kurang disiplin, kurang melayani dengan baik, kurang transparan, kurang memberikan nilai tambah, banyak mengeluh, cenderung korup dan lain sebagainya.
Banyak pendapat yang berkembang dikalangan para ahli tentang penyebab kondisi tersebut, dan yang paling santer dikatakan sebagai penyebab utama adalah karena gaji dan kesejahteraan PNS yang rendah.
Para ahli berpendapat bahwa rendahnya gaji dan kesejahteraan PNS tersebutlah yang menyebabkan mereka cenderung berusaha mencari pendapatan tambahan untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya supaya dapat hidup layak (baik yang dilakukan secara legal maupun illegal).
Efek dari kecenderungan tersebut bagi PNS Golongan rendah antara lain adalah kurang fokus terhadap pekerjaan, pelayanan kurang memadai, sering meninggalkan tempat kerja rendahnya upaya meningkatkan profesionalisme dan lain sebagainya.
Sementara pada tingkat Golongan yang lebih tinggi dan punya akses terhadap pengaturan belanja Negara mempunyai kecenderungan upaya – upaya memunculkan pos –pos anggaran yang tidak penting dan kurang menyentuh kebutuhan masyarakat, seperti munculnya pos – pos perjalanan dinas yang berlebihan (dalam dan luar negeri), pengadaan barang dan jasa kebutuhan kantor yang berlebihan, mark up anggaran dan sebagainya.
Hal – hal – lain yang juga dianggap sebagai akibat dari penghasilan PNS yang rendah tersebut adalah maraknya isu gratifikasi, isu suap, pungutan liar, korupsi dan lain sebagainya.
Pemerintah pada tingkat pusat maupun daerah sebetulnya sangat paham akan hal itu sehingga muncul upaya – upaya peningkatan penghasilan PNS secara legal yang muncul dalam bentuk upaya secara periodik menaikkan gaji PNS dalam rangka mengimbangi inflasi, upaya memberikan kenaikan gaji berkala, pemberian berbagai tunjangan dan bahkan pada beberapa Kementerian telah dilakukan Remunerasi dan pada daerah memberikan TPP.
Yang menjadi pertanyaan disini adalah, adakah pengaruh yang signifikan antara kenaikan gaji dan tunjangan terhadap peningkatan disiplin, produktivitas dan kinerja PNS ?
Jawabannyaternyata belum !!!
Kenaikan gaji dan TPP yang diberlakukan secara massal kepada semua PNS ternyata tidak menyelesaikan masalah.
Karena ternyata bukan besaran kenaikan gaji dan tunjangannya yang berpengaruh, akan tetapi bagaimana sistim pemberian kenaikan gaji dan tunjangan kesejahteraan tersebut dikaitkan langsung dengan disiplin, kinerja dan produktivitas PNS yang bersangkutan.
Artinya gaji pokok boleh diberikan secara massal kepada semua PNS dengan mempertimbangkan pangkat dan golongan serta masa kerja yang bersangkutan, akan tetapi tunjangan kesejahteraan hanya boleh diberikan kepada PNS yang berprestasi dengan tingkat disiplin, kinerja dan produktivitas tertentu sesuai dengan standard yang dipersyaratkan.
Ini tentunya menjadi Pekerjaan Rumah bagi Pemerintah, karena menyusun standard kinerja dan produktivitas PNS bukanlah hal yang mudah.
Ditambah lagi dengan sedemikan banyak PNS yang telah begitu lama menikmati zona nyaman dengan bekerja seadanya dengan menggunakan kemampuannya secara minimal sebagai akibat standard kerja yang agak longgar. Berbicara tentang standard kerja, kita perlu prihatin, karena istilah standard kinerja pegawai dan organisasi inipun belum begitu popular dikalangan pejabat dan pegawai di instansi pemerintah.
Uraian kerja pegawai memang ada, tetapi standard kinerja pegawai perorangan tidak begitu jelas.
Yang sudah populer adalah indikator kinerja organisasi yang sifatnya cenderung makro dan susah diyakini bahwa indikator itu betul – betul hasil kinerja instansi yang bersangkutan, tanpa pengaruh dari variable lain.
Target kinerja berdasarkan anggaran juga sudah dikenal, itupun baru pada tingkat output langsung dari suatu kegiatan berdasarkan anggaran yang disediakan dan berkaitan langsung dengan pertanggung jawaban keuangan.
Kita perlu lebih detail lagi menyusun standard kinerja individu pegawai negeri sipil menurut tugas pokok dan fungsinya masing – masing. Penetapan standard harus terukur secara transparandan akan lebih effektif apabila ditetapkan dengan melibatkan pemikiran inovatif para pegawai dengan mengedepankan aspek mutu kerja atau mutu pelayanan, efisiensi biaya, penyelesaian pekerjaan sesuai target, tepat waktu bahkan kalau bisa mendahului target waktu yang ditetapkan, perbaikan perilaku aparat, peningkatan ketrampilan / profesionalisme,keselamatan kerja dan kepuasan kerja pegawai.
Untuk meningkatkan effektifitas pelaksanaan standard kerja, perlu disertai dengan reward yang jelas dengan tidak melupakan punisment bagi pegawai yang bandel dan kurang berkomitmen.
Sistem penggajian berdasarkan disiplin, kinerja dan produktivitas dapat diatur dalam dua kelompok komponen gaji yaitu komponen gaji tetap dan komponen gaji variabel.
Komponen gaji tetap selalu diterima dengan mengacu pada pangkat, golongan dan masa kerja. Gaji variabel diberikan hanya bila disiplin, kinerja dan produktivitas pegawai meningkat atau sesuai standard kinerja yang telah ditetapkan.
Besarnya gaji variable dalam bentuk remunerasi ataupun tunjangan kesejahteraan tergantung pada kondisi keuangan Pemerintah dan disiplin, kinerja serta produktivitas masing-masing pegawai.
Untuk tetap melindungi pekerja pegawai golongan kecil dengan tingkat penghasilan rendah, maka komposisi penggajian dapat disusun dengan skema proporsi sebagai berikut: kelompok pegawai golongan kecil berpenghasilan rendah, komponen gaji tetap 70% dan komponen gaji variabel 30%.
Untuk kelompok pegawai berpenghasilan menengah komponen gaji tetap 60% dan gaji variable 40% sementara bagi kelompok pegawai berpenghasilan tinggi komponen gaji tetap 50% dan gaji variable 50%.
Sistem penggajian yang terkait langsung disiplin, kinerja dan produktivitas pegawai yang terukur secara transparan ini terasa lebih adil dan sekaligus akan mendorong semangat kerja karyawan dan tentunya akan berdampak pada peningkatan performent dan kinerja organisasi. 
Dampak sistem penggajian tersebut akan lebih menampakkan hasil yang maksimal bagi peningkatan kinerja organisasi, apabila disertai dengan sistem kepegawaian yang terstruktur dan transparan, baik dalam memberikan penghargaan dan hukuman maupun dalam rekruit, mutasi dan promosi pegawai dengan mengacu pada profesionalisme (the right man on the right place), disiplin, kinerja dan produktivitas kerja pegawai yang bersangkutan tanpa dicampur adukkan dengan faktor lainnya.###

Baca Model tabloid ....?
Gambar  Klik KANAN pilih Open New Tab atau Buka Tautan Baru